-->
Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

18 March 2013

Cerpen Sedih: Jangan Tangisi Aku

Alya masih terbaring, memeluk boneka kesayangannya. Terbesit difikirannya untuk menengok keluar jendela. Ia berkata: "Seharusnya aku seperti mereka!" Ia menatap anak-anak seusianya pergi bersekolah. Sudah hampir setengah tahun Alya tidak masuk sekolah, saat itu ia masih duduk di Kelas 1 SD. Karna penyakitnya yang tak kunjung sembuh, menghambatnya untuk kembali bersekolah.

Hari ini Alya dan kedua orang tuanya pindah rumah ke kampung, tempat dimana kakek dan neneknya tinggal. Alya memulai suasana hidup yang berbeda di sana, ia mulai bersekolah kembali dan langsung duduk di Kelas 2 SD.
Selang 3 bulan, Alya merasa ada keganjalan di tengah-tengah keluarganya, suara tangisan, teriakan, piring yang berjatuhan. Semua itu sering kali ia dengar, orang tuanya sering sekali bertengkar, hingga ayahnya pergi meninggalkan Alya dan mamahnya.

Pagi ini Alya pulang sekolah lebih awal dari biasanya. Wajahnya melukiskan berjuta rasa bangga dan gembira. Ia menghampiri mamahnya yang sedang duduk melamun dikamar. "Mah, liat deh! Alya jadi juara kelas. Mamah senengkan?" Ucap Alya. Namun hanya keheningan yang ia dapatkan. Tak ada yang bisa ia lakukan lagi, ia hanya bisa menangis jika melihat mamahnya terus terusan melamun semenjak kepergian ayahnya. Kasih sayang seorang ayah yang slalu di harapkan, tak pernah ia dapatkan sampai detik ini.

Hari ini penyakit Alya kambuh, ia tak ingin menyusahkan mamahnya, apalagi jika harus melihat mamahnya menangis kembali. Alya berusaha menutupi rasa sakitnya, tapi ternyata Hepatitis A yang dideritanya malah semakin menyiksanya, hingga akhirnya ia dilarikan ke rumah sakit.

Meski matanya belum juga terbuka, tapi Alya masih bisa mendengar dan merasakan orang-orang yang menyentuhnya. "Tubuhnya mulai menghijau, empedunya sudah pecah, hidup Alya hanya tinggal menghitung hari saja, meskipun cuci darah dilakukan, hidupnya tak akan lama" Ucap dokter. Alya mendengar mamahnya menangis dan memeluknya. Tapi ia hanya bisa berdoa: "Ya Allah, kalau memang hidup Alya ga akan lama, tolong izinkan Alya untuk bangun, sebentar.. saja, Alya cuma pengen bilang "mamah jangan nangis karena Alya", Alya cuma pengen mamah senyum, bukan nangis".

Akhirnya Alya bisa membuka kedua matanya, mamahnya senang sekali. Sejak saat itu, Alya menjalankan cuci darahnya 3x setiap minggunya. "Alya harus tetap hidup untuk mamah !" ucap mamahnya setiap kali Alya merasa sakit. Waktu terus bergulir, Alya sudah tak sanggup lagi menahan rasa sakit agar tetap hidup untuk mamahnya. "Mah, Alya capek. Biarin Alya buat tidur panjang ya, tapi tanpa dongengan isak tangis mamah lagi" Ucap Alya dengan nada merintih menahan rasa sakit . "Maafin mamah ya, ia Alya boleh tidur sekarang, mama ikhlas !" Ucap mamahnya. Akhirnya Alya pun tidur untuk selama lamanya. Ia berharap kematiannya menyisakan damai untuk kedua orang tuanya, meski ayahnya tak datang disaat pemakaman dirinya.

Oleh Winda Nurwansah Putri
SMA MA MENES - Facebook: Whinda Poetry - Twitter: @Windawindhy

13 January 2013

Cerpen Motivasi: Kata-Kata Ajaib

"Lalu langkah selanjutnya yang akan kamu lakukan apa ta ? Pertanyaan Erny membuyarkan lamunanku.

"Entahlah, aku masih berfikir tentang beberapa hal yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan tambahan dana" Gumamku pelan.

"Sabar Ta, masih ingat ga sama kata-kata pak Ludi waktu kita lagi didepan koperasi, waktu Erny gagal nyabet juara umum kelas 3, 'Hidup ini tidak mudah, tapi tidak ada kesulitan yang tidak memiliki jalan keluar, selalu ada jalan untuk orang-orang yang tidak pernah menyerah" Jelas Ika penuh antusias.

Wajahnya terlihat sumringah, memancarkan energi positif untukku. Senyumnya merekah, kulihat wajah sahabatku satu-persatu. Ika, Rita, Erny Elim. Oh ya aku masih memiliki sahabat yang tidak pernah lelah mendukungku, yang selalu ada disaat suka duka. Ya, selalu ada jalan untuk orang-orang yang tidak pernah menyerah, aku tersenyum.

Kata-Kata Ajaib

"Kau benar Ka, aku tidak akan menyerah cuma karena hal seperti ini, aku masih punya kalian sahabat-sahabat terbaikku, aku masih memiliki semuanya. Aku hanya perlu lebih semangat dan lebih konsisten didalam hidupku" Aku tersenyum simpul.

"Iya dong, sampai kapanpun REEDY akan selalu seperti ini, tetap bersama disaat suka-duka, saling mendukung, saling berbagi, aku sayang kalian girls".

"Ayo, REEDY..!" Gumam Erny penuh semangat.

"RITA", "ERNY", "ELIM", "DITA", "IKA", "Cheers" bersulam

Aku melihat keluar jendela, langit biru berbaur dengan putihnya awan, terlihat indah. Begitu luas. Angin sore terasa begitu menyejukan fikiran, memberikan perasaan nyaman dihati. Ya, mereka benar, aku tidak akan menyerah, bukan karena aku memang mampu untuk itu, tapi aku adalah istri sekaligus seorang ibu untuk anakku.

Mereka tampak senang, apalagi Erny, paling antusias ketika ku telepon dirinya untuk bertemu dirumah mungil-ku. Dan seperti biasa, mereka berasumsi rumah mungilku-lah yang paling pas rasanya untuk berkumpul, bernostalgia dan berbagi cerita. Selain rumahku yang dikelilingi pohon-pohon yang menyejukan membuat teduh, ada banyak bunga-bunga yang kupelihara pemberian dari mama. Mereka ber-Alasan

"Eh Ta, aku mau nanya sesuatu, boleh ya?" Tiba-tiba Elim bertanya. Ada keraguan diwajahnya. Jelas terlihat

"Nanya apaan sih lim, kok so misterius gitu mukannya?" Ejek ika

"Silahkan, 1 pertanyaan harganya 50 ribu ya mba" Aku ikut-ikutan mengejek, namun Elim tidak merasa tersinggung. Elim tertawa kecil

"Rasanya dijodohkan itu gimana ya?"

Tiba-tiba suasana berubah menjadi hening. Hanya terdengar suara burung di pepohonan. Aku diam untuk beberapa saat, kulihat mimik muka Elim tampak serius menunggu jawaban dariku

"Pertanyaannya simple lim, tapi gimana ya, terlalu rumit untuk dijelasin secara gamblang" Aku mengelak

"Aku akan mendengarkan dengan seksama" Jawabnya jujur

Ika, Rita, dan Erny tampaknya mulai tertarik membahas topik ini. Aku menghela nafas panjang, diam. Namun tiba-tiba aku lebih tertarik memperhatikan pakaian yang dikenakan Rita. Baju panjang bermotif bunga-bunga kecil, dengan rompi putih, Jeans hitam. Gelang bling-blingnya terlihat sangat serasi dengan kulitnya yang putih bersih. Pantaslah Rita mendapatkan gelar "Ratu Kelas" sewaktu sekolah.

Kulihat lagi satu persatu sahabatku, mereka tampak segar, dengan wajah yang terlihat selalu baru. Tidak terlihat sama sekali mereka memiliki masalah, meski aku tau mereka sangat pandai menyembunyikan masalah mereka. Sepertinya aku harus belajar dari mereka. Tidak semua hal bisa aku ceritakan. Apalagi menceritakan masalahku kepada mama. Cukuplah mereka yang mengetahui masalah yang tengah kuhadapi

"Ehem, kami masih menunggu kamu loh Ta?" Tanya Erny dengan mimik muka aneh, aku tekekeh tak tertahan melihat mereka.

"Hm, hanya satu alasanku menerima perjodohan ini, 'aku ingin membahagiakan orang tuaku' mungkin ini salah satu caraku untuk membuat hati orang tuaku senang. Menerima perjodohan. Aku tersenyum kecut

"Ini tidak semudah yang kalian bayangkan, menikah dengan pria yang tidak kita sukai bukanlah perkara yang bisa diterima begitu saja"

"Terus, kamu ga cinta dong sama suami kamu ? Tiba-tiba Erny memotong

"Hm, jawab ga ya ? Godaku

"Seriusan ta ? Jujur deeeh, tanya erny tampak serius dan ingin tau

"Awalnya sulit, membiasakan diri hidup bersama orang yang tidak kita suka, tapi seiring berjalannya waktu, aku mengerti bahwa sesuatu yang kita suka belum tentu baik untuk kita, dan begitupun sebaliknya.

"Seiring waktu pula, aku mengenal suamiku sebagai sosok pria yang penyayang, yang bisa membimbingku, mengimaniku, dan membuatku merasa 'inilah aku'.

"Trus ? Ika menambahkan

"Awal-awal, sikapku biasa saja, kalian tau kan aku tidak terlalu terbuka kepada pria, aku kaku. apalagi pria yang masih asing untukku.

"Tapi, dalam keluarga rasa suka saja tidak cukup, cinta pun masih bisa pudar, namun rasa sayang dan rasa tanggung jawab sebagai seorang istri membuat aku merasakan bahwa aku harus mencintai suamiku apa adanya, menerimanya, menyayangi dia sebagai imamku"

"Dan aku berhasil" Kataku penuh kemenangan

"Cie, enak ya bisa saling mencintai" Ejek Rita

"Apa kamu bahagia ? Tanya Elim serius

Pertanyaan yang sangat mendadak aku fikir. Aku kira tidak akan ada pertanyaan aneh-aneh lagi mengenai perjodohanku dengan Gunawan. Pria rendah hati dengan kesederhanaannya. Mereka bukannya tidak tau, dulu aku menceritakan perihal perjodohanku kepada mereka bahwa aku akan dijodohkan dengan anak kerabat jauh ayah.

Meski awalnya aku keberatan, tapi aku fikir inilah saatnya aku berbakti kepada kedua orang tuaku,ayah menjodohkanku pasti tanpa sebab, tidak mungkin ayah menjodohkanku pada sembarang pria, karena semua orang tua tau apa yang terbaik untuk putra-putrinya meski sulit untuk diterima.

Mereka juga tau, bahwa gunawan hanyalah tamatan sekolah dasar, pekerjaannya sebagai supir taxi tidaklah mencukupi diriku dengan segala kehidupanku. Tapi itulah gunawan, mampu membimbingku menjadi perempuan yang lebih baik, merubah pandanganku terhadap hal-hal yang tidak semestinya aku fikirkan, lebih memfokuskan pada hal-hal yang bisa aku kerjakan ketimbang membuang-buang waktu untuk hal yang tidak perlu. Bahkan Gunawan selalu menyarankan agar aku selalu menjaga mimpi-mimpiku meski kini aku adalah miliknya.

"Hm.. Kebahagiaan itu tergantung dari hati kita dan cara pandang kita melihat sesuatu, aku bahagia. Bahagia tidak ditentukan dengan popularitas, tidak dengan seberapa terkenal pasangan kita, bahagia itu sederhana. Toh, coba lihat aku, aku tinggal disebuah kontrakan mungil, menjadi istri yang baik, itu cukup untuk merasa bahagia. Aku bahagia" Lagi-lagi aku tersenyum simpul

Kuambil secangkir kopi panasku yang mulai dingin, kuminum pelan dan kupandangi mereka.

"Dan satu lagi, aku bahagia memiliki seorang anak mungil, penyemangatku"

"Ya memang tidak mudah, kadang ada saja permasalahan, rasa jenuh, hal-hal kecil yang sering membuatku kesal, tapi suamiku selalu sabar denganku, dia selalu mengajaku berdiskusi untuk mencari jalan keluar, dan pada akhirnya aku bahagia menjadi seorang istri sekaligus seorang ibu" aku tersenyum penuh kemenangan

"Ihhh, ditaaa, aku bisa ngerasain kebahagiaan kamu''

***
Kulihat Gunawan di ambang pintu, raut wajahnya tampak letih namun masih terlihat senyuman disana. Aku menyambutnya penuh kehangatan.

"Assalamualaikum"

"Wa'alaikum salam" Balasku ramah. Segera kuambil alih tas dari punggungnya. Dia hanya menurut. Aku mengikutinya dari belakang.

"Aku ambilkan minum ya, kamu pasti lelah". Tanpa menunggu jawaban, aku segera berlalu menuju dapur, menyiapkan makan dan minum untuk suamiku.

Namun dia diam, ada yang beda. Ada sesuatu yang membuatku merasa beda. Dia terlihat murung.

"Makanlah, aku masak masakan kesukaanmu hari ini" kusiapkan nasi dan lauknya. Dia tetap diam. Wajahnya tertunduk.

Sepi, hanya suara angin malam yang masuk melalui celah-celah jendela yang ditutup koran, beberapa ada yang sobek dimakan rayap.
Suara jangkring terdengar dari kejauhan. Bersaut-sautan dengan suara kodok yang mendesing. Nyaring
Aku memandangnya iba, suamiku yang terlihat lemah. Inikah suamiku ?

"Kamu kenapa? Bicaralah, bukankah selama ini kau selalu mengajariku untuk berbicara, apapun yang terjadi.

Dia masih diam, namun terdengar helaan nafas berat.

"Baiklah, aku anggap tidak ada masalah" Aku menjelaskan

"Aku tau, aku bukanlah pria yang sempurna, bukan suami yang terbaik untukmu, aku tidak bisa memberikanmu materi yang lebih, untuk anak kita. Maaf jika aku memabawmu pada kemiskinan.

"Diam" potongku cepat.

"Tidak mengertikah kau, aku menerimamu menjadi imamku, menjadi ayah dari anakku, aku rasa kau-pun tau bahwa kesempurnaan manusia itu adalah memiliki kelebihan dan lemahan, kedua hal itulah yang membuat manusia sempurna. Saling melengkapi, aku tidak tau mengapa kau tiba-tiba berargumen seperti itu. Aku bahagia, bisa hidup seperti ini. Kau imam yang baik untukku, ayah yang baik untuk anak kita" Kataku meyakinkannya.

"Jadi tolong, jangan pernah membahas hal seperti ini lagi, bukankah kita sudah membahas hal ini ? Tanyaku dengan nada lebih berirama

"Iya"

"Kita sudah memiliki anak, jadi bisakah kau merasa bahagia ? Jangan membuat dirimu merasa bersalah karena telah menikahiku dengan perjodohan ini.

Gunawan memandangku, penuh arti. Wajahnya terlihat bersinar. Matanya yang sipit, menyimpan sesuatu disana. Sebuah ketulusan dan bisa kurasakan itu. Oh, aku baru menyadari bahwa gunawan pria yang tampan, tampan dari hati.

Dia tersenyum sumringah.

"Jadi, aku minta jangan pernah membahas masalah ini lagi, jangan pernah merasa bersalah karena telah menikahiku, jangan menganggap aku tidak mencintaimu, tidakkah kau lihat anak kita ? Dialah buah hati kita". Aku tesipu malu

"Tapi aku hanyalah seorang supir, tidakkah kau malu mempunyai suami sepertiku ? Hanya tamatan sekolah dasar saja ?

"Apakah hatimu akan marah jika aku berkata bahwa aku sangat malu memiliki suami sepertimu sedangkan aku sangat mampu mendapatkan suami yang lebih baik?"

"Tentu ya, aku akan sangat sedih jika kau memang merasa malu mempunyai suami sepertiku" Jawabnya frustasi

"Dan harusnya kau bisa merasakan, bahwa pertanyaanmu telah membuatku sedih". Ada perasaan yang lain yang kurasakan dalam hatiku, perasaan sesak.

"Sejak kau membawaku kedalam hidupmu, aku telah menerimamu, semuanya. Jelasku

"Aku tidak akan pernah malu memiliki suami sepertimu, kau baik, kau sangat penyayang, kau bertanggung jawab, kau pemimpinku. Jadi apa yang harus aku masalahkan? Karena kau seorang supir kah?" Tanyaku
Gunawan hanya diam

"Supir pekerjaan yang halal, aku lebih memilih mempunyai suami seorang supir dari pada mempunyai suami seorang konglomerat tapi tidak bisa mempertanggung jawabkan hartanya" Jawabku lebih halus

"Jadi please, marilah kita hidup dengan merasa bahagia? Kamu, aku dan anak kita? Mari kita buat semuanya lebih jelas, kita rencanakan kehidupan kita. Masa depan anak kita. Tak jadi masalah bagiku selama kau menjadi imam yang baik untukku. Aku bukanlah perempuan lemah, aku kuat seperti ibuku"

"Maaf, aku minta maaf. Ada penyesalan dalam wajah Gunawan.

"Aku hanya merasa takut kau merasa tidak bahagia bersamaku, aku hanya ingin membahagiakanmu dan anak kita. Tapi dengan diriku yang seperti ini, aku tidak bisa memberikan barang-barang mewah untukmu, tidak bisa mengajakmu ketempat-tempat yang kau inginkan. Bahkan gajiku tidak cukup untuk membelikan pakaian baru untukmu.

Aku diam, bibirku tertahan, kaku. Tenggorokanku terasa kering, tapi aku tetap diam. Biarlah dia meluapkan semua kegundahannya.

"Tadi sore aku bertemu dengan teman-temanku, Rita menawariku untuk bergabung bersamanya. Dia memberiku modal untuk berdagang. Aku akan berjualan pakaian disini. Minggu depan aku akan belanja, aku bahagia akhirnya menemukan penyelesaian ini jika kau menganggap gajimu tidak cukup untuk keluarga kita. Aku akan membantu. Aku yakin hasil dari jualanku bisa membantu keuangan kita. Aku akan lebih berhemat, aku akan lebih disiplin. Aku bahagia sekarang, jadi aku harap kau tidak akan pernah membahas masalah ini".

Gunawan tersenyum kepadaku, tanpa berkata apapun. Untuk pertama kalinya aku melihat kebahagiaan diwajahnya. Membuat hatiku merasakan kenyamanan, merasa terlindungi dan merasa bahwa aku tidak kekurangan satu hal pun. Matanya berkaca-kaca, dia benar-benar tulus.

"Jadi, bekerja keraslah untukku, untuk anak kita. Tetaplah menjadi orang yang jujur, tetaplah menjadi orang baik. Tetaplah menjadi imamku yang bijak.

"Uang bukanlah segalannya, ada hal-hal yang tidak bisa dibeli dengan uang. Uang tidak bisa membeli kebahagiaan.

Dia tetap diam, dia memang pendiam. Tidak banyak bicara, dia berbicara tentang hal-hal yang dia anggap penting saja.

"Aku akan meminjam uang kepada mama, untuk menambah modalku berjualan. Nanti akan kubayar setelah kudapatkan hasilnya"

"Besok setelah kamu berangkat kerja, aku akan kerumah mama"

"Aku akan berjualan pakaian untuk ibu-ibu dan anak-anak, aku juga akan mencoba berjualan kue, aku sering membuat kue bersama mama. Aku bisa membuat beberapa kue. Itu akan membantu.

Dia tersenyum lagi, namun kali ini senyumannya tak dapat kuartikan, sebuah senyuman yang membuatku merasakan ada sesuatu hal. Tak dapat kuketahui

Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celanannya. Dia menyodorkan sebuah amplop berwarna coklat.

"Apa ini ?

"Bukalah, jawabnya singkat

Aku meraihnya, dengan pelan kubukan amplop yang sedang kugenggam ini dengan perasaan aneh. Kulihat Gunawan. Dia tetap tersenyum namun lebih hangat dan manis

"Uang ?

"Ya, itu uang. Jawabnya polos

"Maksudku uang apa ini ? Bukankah ini bukan waktunya kau menerima gaji ? Tanyaku heran

"Aku diangkat menjadi karyawan, dan satu bulan yang lalu ada penilaian dari orang-orang pusat untuk supir-supir terbaik setiap tahunnya. Dan aku menjadi supir tebaik tahun ini. Itu adalah bonus yang kudapat" tutur Gunawan dengan tenang

Tak dapat kubendung, aku meneteskan airmata, ya airmata bahagia

"Kau tidak perlu meminjam uang pada ibumu, aku harap uang itu bisa menambah modal usahamu, sisanya simpanlah untuk keperluan dirimu dan anak kita"

Aku terharu.

"Aku akan lebih bekerja keras, jagalah anak kita, berilah dia kasih sayang ekstra. Didiklah dia untuk menjadi anak yang shaleh, anak yang penuh tanggung jawab. Berikanlah hal-hal yang baik saja, jangan biarkan dia merasa kekurangan kasih sayang"

"Tentu, aku akan menjadi ibu yang baik". Aku tersenyum penuh kemenangan.

Benar, "Selalu ada jalan untuk orang-orang yang tidak pernah menyerah" dan ini adalah sebuah kata-kata ajaib yang memberikanku semangat. Sebuah kiasan yang merubah masalah menjadi peluang untuk menjadi lebih baik lagi, membuat aku naik beberapa level menjadi manusia yang lebih baik.

"Makanlah, nanti nasinya keburu dingin, aku menyeka sisa airmataku, dia hanya tersenyum.

Tamat

Oleh Irwan Yanwar
Email : dd.irwanyanwar@yahoo.com

Pesan moral :
  • Sesuatu yang kita suka belum tentu baik untuk kita dan sesuatu yang kita tidak suka belum tentu tidak baik.
  • Perempuan yang baik hanya untuk pria baik, maka jadilah perempuan baik yang anggun, yang kuat, yang lemah lembut maka tuhan akan meberikan pasangan pria yang baik pula, yang bertanggung jawab, yang bijak. Jadalag ucapan karena ucapan adalah pembeda kelas. Hukum alam "perempuan baik hanya untuk pria baik"
  • Kita mempunyai banyak kesempatan, kita mempunyai kesempatan untuk menjadi buruk dan mempunyai kesempatan menjadi baik, jadi kenapa tidak menggunakan kesempatan untuk menjadi baik lagi?
  • Pria tampan dan perempuan cantik kalah sama pria baik dan perempuan anggun yang sopan ucapannya
  • Jangan pernah malu dengan apa yang kau punya, karena suatu saat hal yang kau malu itu akan memberikanmu kebahagiaan yang tak pernah kau duga sebelumnya
  • Tuhan itu maha baik, maha kaya, maka berdo'alah supaya tuhan membaikan rezekimu, membarukan dirimu yang belum baik
  • Jadilah perempuan yang kuat, yang pantang menyerah, jadilah sahabat yang selalu ada ketika sahabtanya tengah kesulitan, jadila pria bertanggung jawab, yang pendiam kerana tidak ada perkataan yang pantas dikatakan tapi jadilah pria yang bijak

Nb : thank's mudah-mudahan cerita ini bisa membuat pembaca merasakan konfik dan penyelesaiannya, mudah-mudahan bisa diterima, :) jika ada kesamaan nama tokoh, harap dimaklum, ini hanya sekedar karangan biasa. :)

26 December 2012

Cerpen Sedih: Otak-Otak Atik

Duaaaarr...!! Pintu terbuka keras, slot kunci terlepas, bahkan hingga terlepas dari tempatnya. Terlihat jelas mimik wajah ayah yang amat kesal, merah padam dengan tatapan mata marah. Tak menunggu hingga suasana menjadi bertambah rumit, segera kuambil kunci motor dan aku segera berlalu meninggalkan ayah yang sedang marah.

Berusaha sekeras mungkin untuk tidak mempedulikan ocehannya yang sangat melukai hati, aku berjalan gontai keluar rumah. Kulihat mama berdiri khawatir diambang pintu. Wajahnya terlihat gelisah, ada sesuatu dimatanya, tapi tidak dapat kubaca seperti biasa, matanya merah menahan sesuatu yang hampir saja keluar, tapi aku tau mama perempuan yang kuat. Aku meniggalkannya, kuhidupkan motorku secepat mungkin dan tanpa ba-bi-bu aku pergi. Masih jelas teriakan ayah dari kejauhan, beberapa orang yang lewat berbisik-bisik. Ah whatever.

Anak Yang Berbakti

Berapa saat sebelumnya:

"Ma, aku tidur dulu ya bentaran?". Ucap Bayu kepada ibunya yang sedang berada didapur.

"Iya, tapi 2 jam lagi bantuin mama ngambil dagangan ya di warungnya Hj. Nina". Jawab ibunya sambil melanjutkan pekerjaannya.

"Iya, nanti bangunin aja, kamarnya aku kunci". Jawab Bayu.

Bayu pun pergi meninggalkan ibunya yang tengah sibuk didapur, yang sedang membuat kue. Bayu berjalan, meraih botol minuman dikulkas. Kemudian masuk kekamarnya. Pintu berwarna merah hati, terbuat dari kayu-kayu yang sudah rapuh, berbalut triplek tipis. Terselimuti koran yang ditempel paksa menggunakan perekat kertas. Dia melewati ayahnya yang tengah tiduran terlentang sambil menonton televisi dengan volume yang super keras.

"De, cariin uban Papa". Perintah ayah Bayu

"Aku mau tidur pah, cape!!". Jelas Bayu, menutup pintu.

"Setan...!!! punya anak susah banget disuruh. Udah pada gede, makin ngelunjak". Gerutu ayahnya dengan nada tertahan.

Bayu tampak biasa menyikapinya. dia merebahkan badannya diatas kasur lipat yang sudah lusuh, warna yang terpupuskan pudar. Dia menutup kepalanya dengan bantal. "Diem lebih baik, toh udah biasa gue diginiin". Gumamnya dalam hati. "Enak banget hidupnya, makan tinggal makan, rokok kopi tinggal ngambil, kerjannya ngomel, nonton TV, tidur". Lanjut gerutu Bayu dengan suara lirih. "Ga liat apa, nyokap yang kerja banting tulang sementara dia enak-enakan bersantai". Protesnya keras tak terdengar.
"Huhhhh..". Bayu menghela nafas berat

"Bayuuuu...!!! dasar anak kurang ajar, susah banget disuruh nyari uban segitu juga". Gerutu ayahnya semakin keras.

Namun Bayu tetap diam, tidur. Sesaat kemudian..

"Duaaaarr..." Pintu ditendangnya dengan kesal. Matanya merah padam. Nafasnya terengah-engah, marah.

Dengan perasaan kesal, Bayu berucap "Loe fikir loe ayah yang baik, loe pikir loe suami yang baik, loe pikir gue bisa sekuat ini karena loe". Gerutunya kesal, Bayu membawa motornya tanpa tujuan. Asalkan tetap melaju dan menjauhi neraka kecil baginya.

"Waktu seneng dapet gaji gede, lu ngilang, sama istri baru loe, sekarang aja loe sakit loe ngerepotin mama, menyusahkan aja lu..!!!". Bayu meluahkan kekesalannya.

"Enak banget hidup loe, ga liat apa mama ampe bangun subuh tidur larut cuma buat ngidupin anak-anaknnya, buat ngasih maka loe, nah loe malah enak-enakan!! Ayah macem apa loe hahh". Tak henti-hentinya Bayu menggerutu.

"Pantes anak-anak loe ga respect sama loe lagi, sikap loe yang pemarah, pencaci bahkan sama darah daging loe sendiri"

"Jangan salahin gue kalo sikap gue kaya gini, gue kurang apa, gue ga ngerokok, ga minum bahkan ga ngobat kaya anak-anak lainnya yang pusing dirumah"

"Gue tetep jadi anak baik, nah loe masih memperlakukan gue kaya binatang". "Bilang gue anak setan". Lanjut Bayu yang selama ini memendam kekesalan terhadap prilaku ayah selama ini.

"Sialan...!!!" bibirnya tak henti -hentinya menggerutu, motornya semakin cepat melaju.

"Dari SD ampe SMA, belum pernah loe nanyain gimana sekolah gue, BAHKAN gue selalu nunggak kesekolah, ijazah ditahan. Tunggakan mulu padahal punya ayah kerja dengan gaji super lebih dari cukup, arrgghhh...!!!"

Bayu mendapati ada sesuatu dipelupuk matanya, lalu berkaca-kaca. Tampak kekasalan luar biasa menumpuk dihati Bayu. Tak bisa ditahan lagi, Bayu terus saja menggerutu sambil menambah kecepatan motornya.

"Waktu loe nganggur, Mama yang nafkahin anak-anaknnya! Dagang gorengan, dagang lontong, nyuci pakaian tetangga bahkan rela jadi pembantu"

"Hidup loe kurang apa lagi ampe loe khianatin Mama, loe kawin lagi, arrgghh..!!!

"Gaji berkali-kali lipat dari orang lain, tapi tetep mama, gue makan dari hasil keringet mama"

"Gue ga pernah BANGGA punya ayah kaya loe, mending gue hidup berdua aja sama mama, gue juga bisa jagain mama, bukannya seperti loe, yang bisanya bikin mama sakit!!!". Hati Bayu semakin berkecamuk.

"Mama" bisiknya lirih, dia tak dapat membendung lagi, tetesan air melepuh keluar dengan halus, berjatuhan dari matanya yang sipit. Suaranya parau, terasa tertahan ditenggorokan. Kepalanya terasa berat, serasa akan pecah. Pikirannya menjalar tak karuan.

"Mama" ulangnya, cucuran airmatanya semakin deras. "Mama, sabar yaa… Kita pasti bisa laluin semua ini, kita kuat. Kita pernah laluin lebih dari ini, aku tau mama perempuan yang sangat kuat". Batinnya lirih. "Mama bisa, bertahan ampe aku punya pekerjaan. Aku bakal nyenengin mama". Bisiknya lemah

"Aku bakal beliin mama mukena, kerudung, baju hangat baru, sandal baru, aku bakal bawa mama berobat. Mama yang kuat ya, pasti bisa". Bayu semakin mempercepat lajunnya, melewati pepohonan rindang, bambu-bambu lebat yang tertiup angin. Daerah itu terasa sunyi dan Bayu pu membelokkan motornya ke arah kanan lalu memperlambat laju motornya. Kemudian berhenti dan duduk lemas disebuah gubuk reot.

Diusapnya sisa-sisa air mata dipipi. "Hufttt" dia menghela nafas panjang. Sunyi, sepi, tak ada keributan, tak ada keluhan. Langit begitu biru, awan-awan putih tampak cantik memadu padan dengan langit yang maha luas. Burung-burung kecil berterbangan dan hinggal dipohon-pohon. Berkicau sangat indah. Semilir angin menerpa wajahnya, membuat matanya berkedip, dia terlihat lebih tenang.

Dia melihat sekeliling, hijaunya daun-daun dari pepohonan rindang, semak belukar yang lebat. Bunga-bunga kamboja yang bertebaran diatas tanah merah, luasnya hamparan sawah, suara derasnya degupan sungai. Jelas terdengar setiap suara alam disekelilingnya. Dia berbaring. Matanya berusaha tertutup, namun kadang dia membuka mata dan diam mematung.

"Kaya ada yang dateng?" batinnya bertanya. Lalu Bayu pun mendengarkan apa yang dirasakannya. Ternyata itu hanya perasannya, hanya suara angin yang menabrak bambu-bambu tinggi menjulang yang tumbuh dibelakang gubuk, membuatnya terdengar seperti langkah kaki, atau terdengar seperti gesekan kaki diantara tumpukan dedaunan kering.

Terasa damai, sunyi sepi, jauh dari hingar bingar, dari kekhawatiran, jauh dari penatnya dunia, dari jenuhnya kehidupan. Hatinya merasa lebih tenang. Dilihatnya sekeliling. Jejerang makam, ada rasa merinding yang dia rasakan. Namun dia tetap berusaha tenang dan mencoba menutup matanya lagi

"Krek". Terdengar suara disekelilingnya. Bayu terperanjat dan menoleh kebelakang, namun tak ada siapapun disitu. Hanya dirinya. Dan mungkin bersama makhluk lain yang tak kasat mata.

"Maaf, gue cuman numpang istirahat, maaf kalo ganggu. Masing-masing aja ya". Bisiknya pelan. Dia duduk, waspada. Tak lama kembali rebahan.

Ditengah rebahannya itu, Bayu teringat akan ibunya dirumah yang tetap mengerjakan pekerjaan sebagai seorang ibu. Dia (ibu) mencuci Piring dengan perasaan kalut. Sedih, matanya terasa panas. Namun tak ada tetesan disana. Setelah selesai, dia mengerjakan pekerjaan lain, mengepel lantai, membereskan dapur. Apapun dilakukannya. Sesekali dia mengelus dadanya, terasa sakit.

Anak yang dia kandung selama 9 bulan, dipertahankannya dengan separuh nyawanya diperlakukan seperti orang rendahan oleh suaminya sendiri.

Lelah...

Dia merasa sangat letih, matanya terlihat sayu, wajahnya tak secerah dulu dan keriput terlihat dimana-mana. Tenaganya tak sekuat dulu, sesekali dia terbatuk.

Dulu, tak seperti ini. Dia memiliki pembantu rumah tangga, pembantu untuk mengurus keluarga, pembantu untuk mencuci pakaian kotor, pembantu untuk mengurus anak-anaknya. Dia mengehala nafas panjang. Apapun dia kerjakan asal jangan sampai dia diam. Itu lebih baik untuk perasaannya yang sedang sedih.

Dulu dia adalah perempuan dengan pakaian bermerk mahal. Dihormati oleh masyarakat.
Dulu dia memiliki rumah, bukan kontrakan yang sekarang dia tinggali bersama suami, dan kedua anaknya.

Dulu, emas-emas mejadi koleksi wajibnya. Pakaian bermerk mahal, barang-barang antik, mobil, beberapa angkot, sawah-sawah, kebun jagung, beberapa tabungan dan deposito. Dulu keluarganya adalah orang terpandang, disegani. Hingga suaminya melakukan hal yang tak seharusnya dilakukan oleh seorang ningrat, dan semuanya berujung menyakitkan.

Meski berat, dia tetap tegar. Perempuan kuat. Dikala suaminya malu untuk menghadapi kenyataan pahit, dia berusaha menjadi yang terdepan, membuat rasa nyaman untuk anak-anaknya. Berjualan mie ayam, gorengan, berjualan lontong dipinggir jalan, menjadi pembantu rumah tangga, mencuci pakaian kotor.

Dia kuat, sekuat baja, diberikannya kasih sayang yang besar untuk kedua anaknya. Tak pernah sedikitpun dia memperlakukan kedua anaknya secara tidak adil. Padahal dia hanya lulusan sekolah dasar, bahkan tidak sampai lulus sekolah. Hanya sampai kelas 2 SD.

Disaat suaminya tidur, dia bangun ditengah malam, bersujud dan menumpahkan semua kekecewaannya, kekesalannya, namun dia tau seberapa keras dia memprotes kepada tuhan, dia hanyalah hamba, meski dia menangis, menjerit tetaplah semuanya tidak akan kembali dalam sekejap. Dia lebih tabah. Dia hanya meminta kesehatan dan kekuatan yang lebih untuk memikul lebih banyak cobaan untuknya.Dia hanya meminta rezeki yang halal, untuk membaikkan kedua anaknnya. Disaat semua orang tertidur pulas, saat itulah dia bersujud memohon ampun.

Tak lama kemudian Bayu terkejut dan terbangun ditengah-tengah pikirannya tertuju pada ibunya setelah mendapati ada pak tua didekatnya. Kemudian duduk, merapikan pakaiannya yang tampak kusut.

"Pak, saya numpang istirahat" izinnya kepada lelaki tua yang dilihatnya tengah duduk disampingnya.

"Iya tidak apa-apa". Ucap lelaki tua dengan santai.

Lelaki tua, dengan celurit ditangan kirinya, dan sebatang rokok lusuh ditangan kanannnya, bajunya kotor dan wajahnya terlihat tua, namun ada kedamaian disana, yang membuat Bayu merasa nyaman.

"Gimana kabar keluarga?" Tanya lelaki tua tidak menoleh.

"Mama sehat, ade juga sehat". Jawab Bayu dengan nada sopan.

"Pak Soleh sehat?". Sambung Bayu.

"Eh. Papa lagi sakit? Ngga kerja?". Pa tua itu pun menyambung pertanyaannya.

"Ngga, udah sebulan ada dirumah. Udah ga kerja". Jawab Bayu. "Disini adem ya pak". Bayu mengalihkan topik membahasan. "Disini pemakanam umum ya? Bikin suasana hati jadi tenang ya". Lanjut Bayu.

"Iya, disini memang bikin hati tenang. Pemakaman keluarga dulunya, tapi yang punyanya mewakafkan tanahnnya buat daerah sini. Ya sekarang jadi pemakanamn umum." Jelasnya.

Lama Bayu mengobrol dengan lelaki tua itu. Hingga terdengar adzan dari kejauhan, hingga dia memutuskan untuk pulang kerumah. Suasana hatinya sudah merasa lebih tenang. Dia meninggalkan lelaki tua digubuk seorang diri.

"Maafkan aku Tuhan, bagaimanapun, sejelek apapun dia tetap ayahku, ayah kandungku. Maafkanlah dia, aku yang salah. Aku yang harus mengalah. Kasian mama". batinnya memanjatkan do'a.

"Aku yang harus banyak mengalah, toh ayah memang lagi sakit. Tak semestinya tadi ku bersikap seperti itu". Hatinya meyakinkan. "Maaf Ma, aku bakal lebih dewasa untuk bersikap". Dia memarkir motornya didepan rumah. Dilihatnya pintu kamar orang tuanya tertutup rapat, dia mengela nafas panjang. Dilihatnya Mama didapur.

Bayu terdiam seperti patung, tubuhnya kaku. Tak dapat digerakkan, hatinya kembali bersedih. Air matanya mengalir deras sekali namun tak terdengar. Matanya terasa sangat panas dan kepalanya benar-benar terasa ingin pecah.

Dilihatnya ibunya yang terbaring lemas dilantai. Dia menatap dengan tatapan iba. Ibunya tengah tertidur dengan tangan masih menggenggam pisau, beberapa buah bawang merah berceceran, 2 buah cabai yang sudah terpotong. Diujung sepiring dengan nasi hanya buat beberapa suapan saja, dilihatnya dengan jelas. Nasi hanya dengan garam.

"Mama makan dengan garam dan kecap lagi". Air matanya semakin deras. Namun tetap tidak terdengar isakan.

"Tuhan, kuatkan Mama. Berikan dia ketabahan. Aku bisa lebih kuat, bisa tabah jika mama tabah. Beri dia kesehatan yang ekstra, kekuatan yang ektra. Beri dia kehidupan yang layak. Aku janji Tuhan, aku akan menjadi anak yang baik, yang rajin, aku janji aku ga bakal macem-macem, cukup mama kau berikan kemudahan. Aku akan bekerja keras. Berikan mama kemudahan, kekuatan, beri mama kehidupan yang layak Tuhan". Pintanya dalam hati. "Aku kuat, Mama juga kuat". Hatinya menguatkan.

Bayu-pun mengambil pisau ditangan ibunya dengan sangat hati-hati, disimpannya diatas rak. Diambil alihnya pekerjaan yang belum sempat dikerjakan ibunya. Dirapihkannya bahan-bahan untuk membuat gorengan dan cilok milik ibunya.

"Ya Tuhan, aku tau kau memberikan ujian ini bukan tanpa sebab, tapi untuk memuliakanku. Untuk membuatku lebih kuat, lebih mampu dan lebih menghargai apa artinya hidup, kebersamaan, kasih sayang"

"Kini aku tak lagi malu dengan semua ini, dengan kontrakan kecil ini, dengan dagangan mama, mungkin aku tidak bisa main-main lagi, tidak bisa menyombongkan harta lagi, mungkin aku sakit karena terjatuh dengan keras, namun aku sangat bersyukur telah diberikan ibu yang sangat kuat, memberikanku arti hidup yang sebenarnya. Perjuangan, pengorbanan, tenaga, kekuatan, kesabaran ekstra. Semuanya Tuhan"

"Aku yakin, semua ini akan menjadikanku lebih mampu dimasa mendatang, menjadikanku lebih dewasa, maka ikhlaskanlah hatiku untuk membarukan diri, untuk menjadi lebih baik. Kuatkanlah kakiku untuk tetap berdiri, kokohkanlah pundakku untuk memikul lebih banyak beban. Aku siap Tuhan, asalkan ibuku tetap bersamaku"

"Baikanlah ayahku yang belum baik, aku tau Engkau tengah mengujinya, maka berilah dia pencerahan disetiap pandangannya. Terimakasih Tuhan". Lirihnya pelan didalam hati.

Oleh Irwan Yanwar
email: dd.irwanyanwar@yahoo.com

Catatan:
Cerpen diatas merupakan kiriman dari Irwan Yanwar (Nama Facebook: Irwan Yanwar), seorang remaja yang lahir pada tanggal 01 Januari 1993. Cerpen yang diberi judul Otak-Otak Atik diatas merupakan cerpen yang berhubungan pengalaman pribadi yang diterbitkan dengan harapan agar cerita ini bisa bermanfaat dan menjadi pelajaran berharga untuk para pembaca.

Pesan moral dari penulis untuk seluruh pembaca:
  1. Hidup itu seperti roda, kadang kita diatas berfikir seolah semuanya akan tetap begitu, namun tanpa ada pemberitahuan dan persiapan kita jatuh dan tersungkur. Namun tetaplah dijalan yang benar. Tetaplah hidup dalam kejujuran dan kesabaran, berharaplah kepada pemberi harap yaitu اَللّهُ karena dialah pemberi harap yang tal pernah salah. Mungkin ada hal yang tidak bisa kita dapatkan, mungkin ada luka tapi itu lebih baik. Karena sesuatu yang اَللّهُ berikan tujuannya adalah untu memuliakan hambanya yang mungkin salah.
  2. Rangkullah ibumu, berilah dia senyuaman, jangalah kau kasari dia, dia itu lelah mengurusimu, dia itu letih. Perhatikanlah dia, keriuputnya semakin banyak, tubuhnya ta lagi sekuat dulu. Janganlah kau mendukan perhatianmu untuk orang yang mungkin hanya menyayangimu dari luar, lihatlah ibumu dan renungkanlah. Ibumu itu memiliki kasih sayang yang tak pernah mati. Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang tombak.
  3. Tetaplah menjadi anak yang berjalan dalam kebenaran, jadilah anak yang berbakti.
  4. Kendalikan emosimu, sebelum itu semua membuat semuanya semakin rumit
  5. Ambillah waktumu dan sempatkan beberapa jam saja untu merenung, jauhkan dirimu dari kegaduhan, dari facebook, dari handphone, rasakanlah dirimu diantara alam sekitar, kau akan lebih tenang dan akan lebih banyak berfikir mengenai kehidupan.
  6. Hal yang apaling membanggakan adalah kita masih muda dan kita berada dijalan yang benar.
  7. Satu kegagalan tidak menjadikan seluruh kehidupanmu gagal. Ia hanyalah sebuah pilihan logis selain keberhasilan, yang akan menjadi semakin kecil saat engkau membaikkan dirimu.

25 December 2012

Cerpen Sedih: Penyesalan Vanya

Cerpen berjudul Penyesalan Vanya ini dibuat oleh Turini saat ia duduk di kelas VIII G SMPN 1 JATISARI, dan merupakan salah satu dari beberapa karya yang sudah dikirimkan di ZodiakLopedia, karena pada kesempatan sebelumnya beliau juga sudah mengirimkan beberapa karyanya seperti puisi Cinta Yang Terpendam, Dissapointed, dan beberapa baris kata-kata mutiara yang dirangkum dalam Kumpulan Puisi Cinta Sedih - Turini.

Penyesalan

Untuk lebih jelasnya, berikut cerpen sedih Penyesalan Vanya yang dimaksud diatas dan diharapkan pula kita dapat mengambil amanat yang disampaikan oleh penulis.

Penyesalan Vanya

16 th yg lalu seorang ibu melahirkan anak perempuan yg sangat cantik, tetapi ketika anak itu lahir pada saat itu juga sang ibu meninggal. Dan suaminya yg bernama Pak Driya sangat kecewa atas kelahiran anak perempuanya itu, karena dia menganggap kematian istrinya disebabkan oleh kelahiran putrinya. Pak Driya memiliki 3 orang putri, tetapi Pak Driya hanya memanjakan 2 putrinya saja dan yang satunya lagi dia anak tirikan.
Pak Driya:Hey bangun. Udah jam berapa ini
Vanya:Ya Pa
Pak Driya:Dan ingat sebelum kamu berangkat ke sekolah, kamu harus nyapu, ngepel dan cuci baju dulu
Vanya:Ya Pa, Vanya ngerti
Rina (kakak ke 2 Vanya):Pa, Vanya udah bang.. Eh udah, Vanya kamu mau berangkat bareng kakak gak?
Pak Driya:Gak, gak boleh dia bisa berangkat sendiri ya kan?
Vanya:Ya, Pa
Irma (kakak ke 1 Vanya):Ko gitu sih Pa? Vanya kan adik kami juga..
Pak Driya:Pokoknya gak boleh, dia harus nyapu, ngepel, dan cuci baju dulu
Rina:Ya udah, Vanya kita berangkat dulu ya?
Irma:Yang sabar ya Vanya

Lalu mereka pun pergi. Di rumah Vanya mengerjakan semua pekerjaan yg diperintahkan papanya. Vanya bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Tetapi ketika sampai disekolah, gerbang sekolah sudah ditutup dan akhirnya Vanya terpaksa bolos lagi. "Aku terlambat lagi udah berulang kali aku terlambat. Aku takut untuk memberikan surat panggilan dari sekolah untuk papa" (ucap Vanya dalam hati). Vanya pun pulang. Ketika sampai dirumah kakak-kakaknya sudah pulang duluan.
Irma:Kamu baru pulang?
Rina:Ko tumben, biasanya kamu yang pulang duluan?
Vanya:Ya kak, tadi ada pelajaran tambahan
Irma:Oh ayo makan yuk. Kakak udah siapin buat kalian

Lalu Vanya pun makan dan tak lama Pak Driya pun pulang.
Vanya:capek ya Pa?
Pak Driya:Ngapain kamu nanya-nanya?
Vanya:Vanya mau kasih ini buat Papa

Dan ketika Pak Driya membaca surat panggilan dari sekolah itu.
Pak Driya:Bohong, tapi kenapa Papa harus dateng ke sekolah?
Rina:Udah pa, jangan dipukul lagi, kasian Vanya Pa

Lalu Pak Driya masuk ke kamar begitu pun Vanya.
Rina:Vanya, boleh kakak masuk?
Vanya:Ya, masuk aja gak dikunci ko ka
Rina:Emang ada apa sampe kamu dikasih surat panggilan dari kepala sekolah, ceritain dong sama kakak, kakak gak akan marahin kamu ko
Vanya:Habisnya, papa selalu nyuruh aku kerjain pekerjaan rumah sebelum aku berangkat sekolah, jadi aku sering terlambat
Irma:Emangnya kamu udah bolos berapa kali?
Vanya:Udah sering kak, kenapa sih Papa benci sama aku?

Lalu kakak-kakaknya menceritakan semua yg terjadi dan akhirnya Vanya pun mengerti, kenapa papanya sangat membencinya. Tetapi Vanya berfikir negatif dan dia dendam dengan papanya. Lalu hati Vanya pun berkata "Papa tega menyangka aku sebagai pembunuh mama. Tapi, baiklah kalau Papa ingin aku jadi pembunuh. Aku akan jadikan Papa orang yang pertama kali aku bunuh".

Ketika malam hari Vanya menaburkan bedak pada setiap anak tangga. Berharap papanya akan terjatuh dan meninggal. Dan ketika papanya mau turun ke bawah untuk sarapan.
Pak Driya:Aaaah..
Irma:Sepertinya suara papa
Rina:Ya kak, itu suara jeritan papa
Irma:Ayo kita liat

Ketika mereka menemukan papanya pingsan di lantai.
Rina:Pa.. Pa.. Papa kenapa?
Irma:Cepat panggil ambulan, dan kasih tau Vanya cepat

Mereka pun membawa Pak Driya ke rumah sakit. Akhirnya Pak Driya dapat tertolong. Vanya sangat kesal karena usahanya gagal. Vanya terus befikir cara untuk membunuh papanya. Beberapa hari kemudian Pak Driya pulang ke rumah dan langsung masuk ke kamarnya. Ia pun sadar bahwa ia terlalu kejam kepada Vanya. Kemudia ditulisnya sepucuk surat untuk Vanya yg diletakkan dilaci mejanya. Ketika Vanya membuat bubur untuk papanya. Dia mempunyai rencana untuk memasukan racun ke dalam bubur itu.
Vanya:Ini Pa buburnya, dimakan ya pa biar cepet sembuh
Pak Driya:Udah pergi sana

Setelah Pak Driya menghabiskan bubur itu, Pak Driya merasa kesakitan dan dia pun meninggal. Vanya langsung mengambil mangkuk bekas bubur itu untuk menghilangkan jejak. Lalu Irma masuk ke kamar papanya.
Irma:Pa..Papa bangun dong, Pa bangun Pa! Rinaa, Vanya ke sini
Rina:Ya kak, ada apa?
Irma:Papa
Rina:Papa kenapa kak, Papa kenapa?
Vanya:Pa..paaaa

Vanya sedih melihat kakak-kakaknya menangisi kematian papanya, Vanya menyesal membunuh papanya sendiri. Tak sengaja Vanya membuka isi laci meja dan melihat surat dan Vanya membacanya.

ISI SURAT:
Vanya, Papa sangat sayang sama Vanya.Tetapi, papa sedih karena kamu mirip mama. Maafkan Papa sayang, yg telah menyakitimu. Papa selalu ingin bisa membagi kasih sayang sama kamu tapi papa masih kecewa atas kematian Mama. Maafkan Papa Vanya.

Salam Cinta,
Papa

"Ternyata aku salah menilai Papa, Papa sangat menyayangiku" lalu Vanya menangis didekat papanya, dia sangat menyesal karena membunuh papanya yg justru sangat menyayanginya.
Oleh Turini
Facebook : arinist.i.allwforwhay@facebook.com

22 November 2012

Contoh Cerpen: Segelas Air Untuk Guruku

Anis berlari mengendap-endap kedalam kelas. Sekolah masih sepi, belum seorang pun siswa datang. Seperti kemarin juga, kemarinnya lagi Anis meletakkan segelas air putih ke meja ibu guru, setelah itu ia kembali berlari keluar. Anis kembali ke warung kecil ibunya yang terletak dibelakang sekolah.

"Kau dari mana, Nak?" Tanya ibunya ketika Anis tiba.

"Mmm.. Anis dari kelas sebentar" Jawab Anis sambil kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.

Sebelum sekolah, Anis memang terbiasa membantu ibunya menyiapkan dagangan di warung kecil mereka.

Waktu terus berlalu bel tanda masuk berdentang beberapa kali. Anis segera bergegas ke kelasnya. Ada yang selalu ia tunggu setiap kali mengikuti pelajaran dari Ibu Arin. Ya, Bu Arin itu gurunya. Bukan hanya pelajaran yang ia nantikan, tapi juga saat Bu Arin meneguk air putih yang selalu ia sediakan setiap pagi. Hatinya begitu bahagia walaupun Bu Arin tidak pernah tau siapa yang menyediakan air minum itu.

Seperti biasa, pagi ini Bu Arin masuk kelas dengan senyumnya yang ramah. Beliau menyapa seluruh anak kelas V dengan hangat. Lalu Bu Arin kembali menerangkan pelajaran dengan gayanya yang menarik. Di bangku paling belakang, Anis mengikuti pelajaran dengan penuh perhatian. Hati Anis berdebar-debar cemas, jam pelajaran hampir saja selesai tetapi Bu Arin tidak juga meminum air putih yang ia hidangkan. Perlahan-lahan hati Anis dirasuki perasaan kecewa dan sedih.

Biasanya Bu Arin tidak seperti ini. Beliau biasanya meneguk minuman itu dengan semangat, lalu bibirnya tersenyum kepada seluruh penghuni kelas. Tapi hari ini tidak, jangan-jangan Bu Aris sudah tidak mau lagi minum air itu. Atau? Ya atau Bu Aris sudah tau siapa yang menyediakan minuman itu, lalu Bu Arin merasa jijik karena air minum itu disediakan seorang murid miskin seperti Anis. Berbagai pikiran terus berkecamuk di kepala Anis, hatinya makin sedih.

"Teng! Teng! Teng!" Bel tanda istirahat berdentang. Bu Arin menyudahi pelajarannya. Lalu anak-anak berhambur keluar. Anis berjalan lunglai. Hatinya benar-benar sekali sedih, karena sampai pelajaran berakhir Bu Anis tidak menyentuh air minum itu.

"Anis...!" Tiba-tiba suara Bu Arin menghentikan langkah lesu Anis. "Boleh ibu bicara sebentar?" Jantung Anis tiba-tiba berdegup kencang. Jangan-jangan Bu Arin tau siapa yang selalu menyiapkan air putih dan beliau tidak senang dengan hal itu. Mungkin Bu Arin akan memarahinya. Hati Anis kembali bergedup kencang.

"Kenapa Nis, keberatan kalau ibu ingin berbicara denganmu?"

"Ee.. mmm... ti...ti..tidak Bu" Perlahan Anis duduk di bangku yang berada didepan meja Bu Arin.
"Nis.. Kenapa ya hari ini kamu kelihatan begitu sedih dan tidak semangat?" Tanya Bu Arin.

(Anis tergugup)

"Biasanya kamu begitu riang dan sangat bersemangat kalau pelajaran ibu?, Kamu sedih ya karena hari ini Ibu tidak meminum air putihmu?"

(Anis tersentak dan wajahnya tiba-tiba pucat) "Ja... Jadi ibu tau kalau air itu..?" Anis tergagap-gagap.

"Iya Nis, ibu tau dari sikapmu. Selama ini ibu selalau bertanya-tanya, siapa ya yang selalu menyiapkan air putih dimeja ibu.. Lalu ibu perhatikan, jika ibu minum air itu kamu selalu kelihatan paling gembira. Nah, lalu hari ini sengaja ibu tidak meminum air ini untuk membuktikan dugaan ibu itu benar".

"Nah, ternyata benar lho, kamu sangat bersedih ketika ibu tidak meminumnya. Berarti kamu kan yang selalu menyiapkan air minum itu?"

"Maafkan saya Bu, saya tidak bermaksud apa-apa. Saya hanya ingin berterimakasih kepada ibu, karena ibu telah mengajari saya. Tapi saya tidak tau harus berbuat apa. Saya juga tidak punya apa-apa bu untuk dihadiahkan, seperti apa yang sering diberikan teman-teman. Saya hanya bisa menyiapkan air minum itu, yang lain tidak Bu, agar ketika ibu mengajar sudah mengajar ibu pasti merasa haus, Ibu tinggal minum saja. Tapi jika ibu tidak suka, saya tidak akan menyiapkan air minum lagi" Suara Anis terdendat-sendat.

"Kenapa ibu tidak suka Nis? Kamu ini ada-ada saja"

"Iya, karena Anis orang miskin, mungkin ibu jijik minum air yang saya sediakan" Air mata Anis mulai meluncur.

"A..nis.." Bu Arin mendekati Anis lalu mengelus kepala Anis. "Ibu tidak merasa jijik kok, justru ibu sangat bangga memiliki murid seperti kamu. Kamu anak yang tau berterimakasih. Ibu sangat senang! Ibu berjanji akan meminum air itu setiap hari"

"Haa? Benar Bu? Benar ya Bu?" Anis menatap tak pecaya, Bu Arin mengangguk.

Tanpa sadar Anis menghambur kedalam pelukan Bu Arin. Air mata Anis menetes, kali ini ia benar-benar bahagia. Anis merasakan betapa hangatnya berada dekapan gurunya yang sangat dicintainya.

Contoh Cerpen: Segelas Air Untuk Guruku
Oleh Farida

19 September 2012

Cerpen Cinta Sedih Mengharukan: Rembulan Ini Untukmu, Sayang

Adisty Adelia nama ku, seorang mahasiswi semester 6 jurusan akuntansi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta. Beberapa tahun ini aku sedang dekat dengan seorang pria yang sangat aku cintai, Ahmad Qasam Amrul Haq namanya. Mahasiswa tingkat akhir jurusan sastra arab di kampus Negri Perguruan tinggi Jakarta pula.

Kedekatan kami bukan dalam hubungan pacaran, emmm ta'aruf pun bukan. Namun aku tau, kami memiliki hubungan yang tak biasa. Tak sekedar teman ataupun rekanan mahasiswa. Entahlah, mungkin bisa dikatakan hubungan tanpa status. Yang aku tau, aku menyukainya dan ia pun sama, ya kurasa Ia menyukaiku.

cerpen cinta sedih

Mulanya, kami tak sengaja bertemu di sebuah seminar umum yang mengkaji mengenai Belajar Sastra dan Bahasa arab Alqur'an di salah satu perguruan tinggi ilmu qur'an ternama di Jakarta. Meski aku bukan mahasiswi yang bergelut didunia sastra, namun aku selalu tertarik untuk belajar dan mengkajinya. Bagiku, ini adalah suatu hal yang sangat menyenangkan. Aku selalu kagum dengan semua orang yang bergelut didunia ini. Menurutku mereka keren!. Karna aku tau, bukan suatu hal yang mudah untuk menguasainya, sastra arab. Pikirku, aku ingin menjadi bagian diantara orang-orang keren itu. hihiiiiii.

Saat berlangsungnya seminar itu aku sangat menikmati kajian materinya, sangat bagus dan berbobot. Sampai pada saat dimulainya sesi tanya jawab, seorang mahasiswa berkacamata melontarkan sebuah pertanyaan dengan lugas. "Degggggggh..." tiba-tiba saja, entah kenapa seperti ada yang menghujam jantungku. Bukan karna fisiknya atau kacamata yang ia gunakan saat itu, tapi karna lontaran pertanyaan dan tentu saja karna bahasa arab yang ia gunakan adalah bahasa arab urdu yang tak biasa. Sangat keren bagiku. Sampai seusai seminar umum itu aku nekat untuk berkenalan dengannya dengan dalih ingin belajar bahasa arab urdu itu dengannya. Ah itu tak hanya sekedar dalih, namun aku benar-benar ingin menguasainnya. Tentu saja salah satu cara untuk aku bisa menguasainya adalah dengan menjadikan dia sebagai guruku.^^

Dari peristiwa itu, aku dan dia mulai menjadi partner belajar bahasa arab, seminggu sekali kami kami selalu meluangkan waktu itu itu. Dan tak hanya belajar tentang itu, kami juga sering membahas ilmu-ilmu lainnya, ilmu apa saja. Kegiatan ini berlangsung cukup lama, hampir 2 tahun kurasa. Hingga hubungan kami berubah status menjadi hubungan yang tak biasa. Dalam suka-duka, ia lah orang pertama yang ingin aku temui. Dia pun sama, teman-teman kami, bahkan keluarga kami pun sudah saling mengenal. Ya, bisa kupastikan kami memiliki hubungan yang tak biasa.

Pacaran, sempat kata itu menjadi perbincangan hangat dan membahagiakan saat itu untuk kami. Namun, kami tak lakukan itu. Karna baik aku maupun dia sudah sama-sama mengerti tentang keharaman hubungan itu. Lalu hubungan kami?? ya aku tau, bahwa hubungan kami tak bedanya dengan hubungan terlarang itu, hanya status namanya saja lah yang berbeda.

Tapi dapat kami tegaskan, kami tak pernah melakukan hal-hal yang dilakukan orang-orang berpacaran lainnya. Kami tau batasan-batasan dalam bergaul. Kami tak pernah sekalipun berpegang tangan, pertemuan kami pun selalu ditempat-tempat ramai. Entahlah, aku dapat memastikan hal-hal itu kecuali satu hal. Hati kami. Meski kami saling suka, namun kami tetap menjaga rasa. Pikirku saat itu. Kami saling berkata, bahwa saat indah nanti kelak kita akan bersama. Hanya tak sekarang, dan untuk saat itu biarkan hubungan kami berjalan seperti sekarang. Akupun menyutujuinya, karna jujur aku tak sanggup berpisah darinya. Aku telah benar-benar mencintainya.

Lambat laun, hubungan kami semakin manis.. bukan karna kami semakin dekat. Bukan. Sama sekali bukan. Justru karna kami telah berpisah. Ya kami berpisah. Benar-benar berpisah. Dan status hubungan kami pun menjadi jelas. Tanpa status apapun. Aku katakan ini manis, memang bagi kami ini adalah hubungan yang manis. Ah sangat manis sepertinya.^^

Setahun belakangan kemarin sebelum kami berpisah, kami aktif untuk menghadiri seminar-seminar umum diberbagai perguruan tinggi. Tentu saja aku melakukannya bersama dia, Ahmad Qasam orang yang ku cintai. Kecintaan kami terhadap sastra melebar ke ilmu-ilmu lainnya, salah satunya adalah fikih. Entah mengapa sejak kami mengikuti berbagai seminar yang membahas tentang kajian fikih, membuat kami sangat tertarik untuk mengkaji mengenai kajian fikih itu lebih dalam dan dalam lagi. Kami berdua seperti terhipnotis dibuatnya. Mungkin karna dalam kitab fikih menggunakan bahasa arab yang membuat kami lebih bersemangat.

Hingga sampai suatu hari, kami menyadari bahwa ada yang salah dengan hubungan kami. Dalam kitab fikih itu dijelaskan dengan jelas tentang bagaimana seharusnya pria dan wanita yang bukan mahrom berhubungan. Dalil-dalinya pun dengan jelas tertera disana. Saat itu kami diam dan hanya saling menatap. Benar-benar menjadi perenungan panjang buat kami. Hingga tak lama, aku meneteskan air mata. Dalam diam, berjuta pertanyaan berkecamuk didada.

"Salahkah hubungan ini?? lalu apa harus kuakhiri, tapi aku sangat mencintainya... sungguh. Aku harus bagaimana?? tapi bila lanjut, aku tau ini dilarang oleh agama. Hubungan kami.. salah! tapi aku mencin..." Aku tak sanggup melanjutkan lirihan dalam hatiku. Aku semakin terisak. Tangan ku bergemetar. Kepalaku pening. Aku berharap saat itu aku pingsan saja, namun ternyata tidak. Aku ingin bergumam, namun bibirku kelu. Seperti terisolasi ribuan lakban. Lalu tiba-tiba saja,tangan Ahmad orang yg aku cintai hendak menyentuh tanganku namun ia urungkan.

"Kita... sudahi saja semuanya." Ahmad berkata secara tertatih. Tak lugas seperti biasanya. Nampaknya, saat itu ia pun seperti tak rela melepasku. Aku menghela nafas panjang. Ku kuat kan azzamku. Dan aku menyetujuinya.

Saat itu, tak ada kata-kata perpisahan ataupun kata-kata mesra lain yang terucap. Hanya sebuah senyuman dengan air mata terbendung yang terlihat. Dan kami pun berpisah. Entah kenapa, setelah aku memutuskan hubungan ini, aku merasa seperti melepaskan beban berat di pundakku. Sedih. Tentu saja aku sedih. Orang mana yang tidak sedih bila harus berpisah dengan orang yang dicintainya. Meski pedih namun inilah jalan yang harus aku dan dia lalui. Berjalan sesuai syariat-NYA. Itu mutlak harus dilakukan dan tidak ada tawar menawar. Karna itulah yang terbaik untuk kami. Meski hubungan kami bukanlah pacaran, namun kami sadar intensitas pertemuan kami sudah selayaknya insan yang berpacaran.

Setelah kejadian itu, aku mulai belajar serius tentang bidang-bidang ilmu agama lainnya. Aku pun mulai melebarkan kerudungku, melonggarkan pakaianku, dan benar-benar menjaga muruah serta izzahku. Sebenarnya aku sudah berhijab lama sebelum aku mengenal Ahmad Qasam, namun belum sesyar'i saat ini ku rasa. Masih terbawa trendi arus zaman. Dikampus, aku pun mulai mengikuti kajian-kajian islami rutin. Menambah wawasan pikirku.

Delapan bulan berlalu, aku benar-benar merasa menjadi pribadi yang berbeda. Dan Ahmad, aku tidak tau sedikitpun tentangnya. Sempat terbesit untuk menghubunginya, namun aku urungkan. Ya aku paksa urungkan. Biarlah Allaah yang mengatur segalanya. Aku benar-benar berpasrah diri. Bila rindu akannya meraja, aku hanya bisa berdoa pada-NYA di jannah IA pertemukan kami kembali. Pintaku sesederhana itu.

Mengawali awal semester 8, saat itu usiaku 22 tahun. Aku disibukkan oleh segudang kegiatan untuk mempersiapkan skripsi ku. Sampai suatu hari ibu ku tiba-tiba memintaku untuk menikah. Usiaku sudah cukup katanya. Tentu saja aku menolaknya, dengan alasan aku ingin fokus pada skripsiku. Ibu pun memakluminya.

Hari berganti hari, hingga akhirnya usailah masa kuliahku. Aku diwisuda. Beribu ucap syukur yang ada kala itu. "Alhamdulillah.." Ujarku saat itu. Ucapan selamat pun berdatangan kerumahku. Aku benar-benar bersyukur. Hanya saja, tiba-tiba wajah Ahmad melintas dibenakku. Dia tersenyum dan mengucapkan ucapan selamat padaku dengan manisnya. "Astaghfirullaah! Mikir apa aku ini." Aku beristighfar dan menepis angan-angan kosong itu.

Kini aku bekerja di salah satu lembaga zakat indonesia, aku bahagia bekerja disana. Dikelilingi teman-teman sekantor yang seakidah dan yang terpenting waktu sholat kami di berikan waktu yang cukup lama, jadi kami tidak tergesa-gesa. Berbeda jika aku bekerja dikantoran.

Ditempat ini, aku memiliki sahabat karib. Kami memang baru beberapa minggu saja bertemu, namun kami telah akrab. Namanya Hafla Naura Salsabila. Namun, aku biasa memanggilnya dengan Bulan. Panggilan kesayanganku untuknya. Aku memanggilnya bulan karna dia selalu melakukan banyak aktivitas di malam hari, mulai dari bertahajud, menghafal, membaca alqur'an, bahkan hampir setiap malam dia mendengar semua keluh kesahku. Ya, kami sekamar, semenjak bekerja aku memutuskan untuk mencari kontrakan. Agar mandiri tekadku.

Hafla, dia benar-benar seperti rembulan buatku. Hadir dimalam hari dan menerangiku dengan ilmu-ilmu dinnya. Karnanya, aku pun menjadi seperti bulan juga. Ah tidak, mungkin aku hanya menjadi bintangnya saja, yang selalu mengiri keindahan bulan dimalam hari. Aku benar-benar menyanginya. Alhamdulillaah.

Tahun ini, aku mendapat kabar kejutan dari orangtuaku. Aku diajak ta'aruf. Aku ingin menolaknya, namun aku tak kuasa. Bapak bilang ia adalah seorang yang berpendidikan dan yang terpenting dia sholih, insyaallaah. Mendengar kata sholih, akhwat mana yang tak bergembira. Aku pun sama, bergembira. Bersyukur. Awalnya aku sempat ragu, namun setelah istikharah. Akupun mantap untuk menyetujuinya.

Hari untuk nadzar kami pun telah ditentukan. Sabtu ini dirumah kami, entah karna aku begitu bodohnya atau apa, aku sampai lupa menanyakan nama dari pria tersebut. Mungkin karna aku begitu bahagia mendengar kata sholih. hihihi.^^

Hari nadzor pun tiba, aku menggunakan kerududung dan gamis hijau. Aku berharap berpenampilan cantik tentu saja. Tak lama aku pun dipanggil keluar kamar. Sambil berjalan aku melihat pria bersahaja duduk.

"Ah..mad?" Aku terkejut. "Na'am, ana Ahmad Qasam Amrul Haq." Ahmad menjawab dengan lugas disertai senyum manis diwajah teduhnya.

‎"Subhanallaah..." Aku terkejut, langsung saja ku peluk ibu ku karna bahagianya. Dia, yang duduk disana.. calon suamiku nampak sangat berbeda. Celananya berbeda, tak isybal. Alhamdulillaah. Wajahnya pun berbeda, dia tampak teduh sekarang dengan janggut tipis di dagunya. Alhamdulillaah. Dia lebih alim, arif, dan berilmu. Alhamdulillaah.

Hari walimah kami telah ditentukan, 2 minggu setelah pertemuan nadzor ini. Seminggu sebelum hari walimahku, aku menyempatkan diri untuk ke kontrakan ku untuk mengambil barang-barangku, dan tentu saja untuk bertemu dengan Hafla. Bulanku tercinta. Aku kesana untuk mengantarkan undangan special, harus datang paksa ku saat itu. Saat itu memang sedikit gelap;mendung. Namun tak sampai hujan. Dijalan, entah apa yang ku rasa. Sepertinya aku merasa pusing. Mungkin karna aku terlalu lelah menyiapkan walimahku.

Tepat pukul 13.00 aku sampai di sebrang kontrakanku, ketika aku hendak melangkah tiba-tiba aku merasa pusing. Aku berjalan perlahan, tapi tiba-tiba saja tubuhku tertabrak sesuatu. Lalu gelap. Sesadarnya, aku berada dirumah sakit.

Kepalaku sakit. Ibu menangis, Bapak juga. Aku tak mengerti. Ahmad. Ah ya, dia juga ada diruangan ini. Ahmad Qassam, calon suami tercintaku. Dia menangis juga. Ada apa. Kenapa semua menangis. Aku tak mengerti. Mulutku kelu. Kata ibu, sudah 3 hari aku koma. Saat itu aku tertabrak mobil dengan kecepatan tinggi.

4 Hari sebelum pernikahanku, aku masih berbaring dirumah sakit. Kaki ku patah. Entah apa yang akan terjadi pada walimahku, dalam 4 hari tak mungkinkan aku bisa sembuh total. Aku hanya pasrah.

Sore itu, Ahmad datang menjenguk. Nampak wajah khawatir di guratan senyumnya. Aku katakan aku baik-baik saja, dan dia pun hanya mengangguk. Mungkin dia tau bahwa aku sedang berbohong.

"walimah kita bagaimana?" tanya ku penuh tanya. "Akan ditunda sampai kau benar-benar sehat." jawabnya lugas. Aku bahagia meski sungkan. Aku meminta maaf, sungguh karna ku semua jadi tertunda. Dia hanya tersenyum. Manis.

Tiba-tiba ada yang datang mengetuk pintu. Hafla, dia pun meminta izin untuk masuk. Dan aku pun mempersilakannya. Hafla berlari kearahku sambil menangis. Aku hanya tertawa. Aku katakan aku baik-baik saja. Lalu ku kenal kan ia pada Ahmad, calon suamiku. "Bulan, ini Ahmad calon suamiku. Dan Ahmad, ini Bulan eh Hafla teman karibku." Ucapku memperkenalkan mereka berdua. Mereka hanya tersenyum. Aneh pikirku. Dan saat itu juga, Ahmad pamit.

Entah kenapa, saat itu aku melihat bulan tercinta ku murung. Apa karna aku yang sedang sakit? Aku rasa tidak. Tapi lalu aku abaikan. Karna mungkin hanya praduga ku saja. Tak lama, Hafla mendapat telfon lalu pamit dengan buru-buru. Tas laptop nya tertinggal. Aku memanggilnya namun ia tak mendengar.

Karna berhari-hari dirumah sakit, dan merasa jenuh. Aku memutuskan untuk meminjam laptop Bulan ku. Aku biasa bertukar laptop sewaktu dikontrakan dulu. Jadi tidak apa-apa ku pikir untuk menggunakannya. Aku membukanya, namun aku menemukan sebuah blog yang belum di log-out. Aku membacanya. Aku pikir ini adalah karya tulisnya yang sedang ia persiapkan untuk salah satu majalah islami. Hafla adalah penulis lepas. Aku mulai membacanya. Ternyata aku salah. Ini adalah curahan hatinya. Aku tau, tak seharusnya ku baca ini. Namun aku bosan, jadi aku tetap membacanya.

Aku kagum dengan tulisan-tulisanya. Menarik. Tapi... tiba-tiba aku shock ketika menemukan note 8 bulan yang lalu. Bukan karna tulisannya yang mengagumkan. Namun karna aku temukan nama Ahmad Qasam disana. Aku membaca goretan noktahnya dengan hati luka tersayat. Mereka.. ternyata mereka telah saling kenal. Bukan hanya itu. Di masa silam, mereka pernah berta'aruf dan hampir menikah pula. Namun karna orang tua Hafla ditahun itu telah mendaftar umrah, mereka pun memutuskan untuk menundanya. Hafla terus menanti hari dimana mereka berdua akan bersatu. Sampai tiba-tiba saja Ahmad dipindah tugas kan ke luar kota lalu menghilang tanpa kabar. Tapi Hafla tetap menunggunya, karna ia yakin Ahmad akan kembali, dan karna.. Aku menangis membacanya, karna Hafla terlanjur mencintainya.

Seketika aku menutup laptopnya, dan lagi-lagi aku merasa gelap. Aku pingsan lagi. Kata ibuku saat itu. Ketika sadar, aku langsung menggenggam tangan ibuku. Lalu aku mengambil keputusan terberat dan memilukan untuk ku. Aku memutuskan untuk memutuskan hubungan ku dengan Ahmad, aku sama sekali tak menceritakan kejadian sebenarnya pada ibu ku. Aku tak ingin melihatnya kecewa. Aku juga tak ingin untuk yang kedua kalinya berpisah dengan Ahmad, namun aku pun tak kuasa melukai hati karibku, Bulan. Dia terlalu baik untuk disakiti. Aku memaksa diriku ikhlas.

2 hari lagi hari walimah kami, pagi itu aku mengajak Ahmad bicara empat mata serius. Aku menuntut cerita darinya. Cerita tentang ia dan Hafla. Awalnya ia tak mengakui hubungan nya dengan Hafla, karna memang ia tak ingin melukai hatiku. Katanya, antara Hafla dan dirinya sudah tak memiliki hubungan apa-apa lagi. Ta'aruf mereka telah lama usai, sampai sekarang dia menemukan kabar tentangku. Katanya, ia masih menyukaiku hingga sekarang. Namun tetap saja, aku tak ingin Hafla menangis terluka. Saat itu aku bingung. Aku memaksanya untuk memutuskan hubungan ini. Namun ia menolak. Saat itu juga Hafla datang, ia bingung mengapa aku menangis sedemikian rupa.

Aku mengajaknya duduk bersama kami. Sebelum aku bicara lanjut, aku meminta maaf padanya karna telah lancang membuka laptop serta menbaca curahan hatinya. Lalu aku ceritakan semua benakku padanya, tentang rasa bersalahku padanya, tentang kebingunganku, tentang semuanya. Seketika Hafla menangis, ia memohon agar aku tak membatalkan pernikahan yang tinggal 2 hari itu. Aku katakan padanya, aku tak mungkin menikah dengan keadaan kaki ku masih patah seperti ini. Lalu aku meminta Hafla untuk menggantikanku. Entah ungkapan bodoh apa itu. Itu terlontar begitu saja dari mulutku. Aku menangis tersedu. Aku tak tau harus berbuat apa. Bila aku bisa berlari, ingin aku berlari ke manapun aku bisa. Namun aku tak bisa. Aku meninggalkan mereka berdua untuk bicara. Aku tak tau harus berbuat apa. Apapun keputusan mereka. Aku akan menerimanya.

Tak lama mereka berdua menemuiku, mereka telah memutuskan agar aku melanjutkan pernikahanku, bahkan pernikahannya pun diurungkan untuk ditunda. Pernikahan akan tetap dilaksanakan apapun keadaan ku. Aku pun menerimanya meski dengan hati tersayat. Namun aku tak peduli, aku berusaha untuk mengapatiskan diri, aku telah memberikan pilihan untuk mereka sebelumnya. Dan mereka pun telah memilihnya. Mereka harus menerima apapun konsekuensnya, pikirku.

Pernikahan kami pun berlangsung sederhana, dengan kaki ku masih ter-gif. Aku melihat Hafla hadir dipernikahanku, ia cukup tegar rupanya. Mungkin aku tak akan hadir bila menjadi dia. Aku takan sanggup melihat orang yang ku cintai bersanding dengan wanita yang lain. Namun bukan Hafla jika bersikap demikian, tegasku.

Dimalam pernikahan kami, aku banyak mendengarkan cerita darinya. Aku pun menceritakan banyak hal padanya. Kami terus saja tertawa bahagia malam itu. Saat itu mungkin aku merasa menjadi wanita paling kejam sedunia. Karna aku bahagia diatas penderitaan teman karibku. Namun aku tepiskan itu, karna aku yakin temanku akan jauh menderita bila aku bersedih atasnya.

Saat ini, aku dan Ahmad Qasam telah menjadi pasangan sah. Banyak hal yang bisa kami lakukan bersama dengan leluasa tentunya. Dan meski kami telah menikah, kami masih sering mengikuti seminar-seminar umum diantara kesibukan kami. Itu mengingatkan kami pada masa dahulu. Aku hanya bisa tersenyum.

Di lima bulan pernikahan kami, aku mengandung anak pertama kami. Usianya baru 1 minggu, alhamdulillah keluarga kami bertambah bahagianya. Ahmad suami tercinta ku benar-benar memanjakan ku. Aku berhenti bekerja saat datang kehamilanku ini. Tak boleh terlalu lelah kata Ahmad, dan aku pun menurut. Sampai suatu malam, aku memimpikan Bulan ku. Dia terlihat sangat pucat dan lesu. Keesokannya ketika aku bangun, aku ceritakan hal itu pada suamiku. Aku mulai mengkhwatirkan Hafla. Setelah pernikahan kami, Hafla memutuskan untuk pindah ke luar kota. Namun ia tak katakan kemana. Ahmad bilang itu hanya sebuah mimpi, dan menyuruhku untuk tak khawatir. Namun aku tak bisa. Aku mulai mencari info tentang keberadaan Hafla. Dan aku mendapatkan alamatnya. Saat itu juga, aku dan Ahmad pergi menemuinya.

Benar saja, ternyata keadaan Hafla tidak baik. Ia terlihat pucat sekali. Dan kurus. Aku menangis melihatnya.

"Kau kenapa hafla??" Tanyaku sambil menangis dipeluknya.
"Aku baik-baik saja kok." Jawab Hafla singkat.

Aku tak percaya begitu saja. Aku tanyakan keadaan Hafla pada ibunya. Ibunya mengatakan, bahwa akhir-akhir ini ia berusaha keras melupakan Ahmad dengan melakukan banyak ibadah. Sampai terkadang ia tidak tidur. Aku menangis menangis tersedu mendengarnya.

Malamnya kami pamit pulang. Tak sepatah katapun keluar bibir kami, aku dan suamiku. Sekarang, suamiku yang terlihat khawatir. Aku melihatnya benar-benar mengkhwatirkan Hafla.

Dalam tahajudku malam ini, aku mencurahkan semuanya pada Allah. Hingga aku tertidur pulas di atas sajadahku.

Esok paginya, aku melihat suamiku murung. Aku tanyakan mengapa dan ia katakan tidak ada apa-apa. Aku bingung. Semenjak kami bertemu Hafla, sikapnya berubah dingin padaku. Aku tak ambil pusing awalnya, karna ku fikir mungkin ini hanya sementara. Tapi ternyata perkiraanku salah. Sudah beberapa minggu ia dingin padaku. Aku bertanya padanya, apakah aku melakukan salah kepadanya. Namun ia katakan tak ada. Aku semakin bingung dibuatnya. Aku sedih.

Lalu aku teringat Hafla, apa semua ini karna dia. Apa sekarang Ahmad menyesal menikahiku. Aku mengajak Ahmad bicara serius, tapi kami malah bertengkar. Ahmad bilang ia tak ingin diganggu saat ini. Sampai aku mendengar hal-hal yang tak ingin aku dengar. Ahmad, meminta ku untuk berpisah dengannya. Aku kaget, aku terkejut. Mengapa ia setega itu. Aku tanya apakah ini karna Hafla. Dan ia katakan ya. Aku langsung jatuh pingsan saat itu.

Perutku sakit sekali, ah tidak. Ini tak sesakit hatiku. Ahmad datang dan meminta maaf padaku, ia berjanji takan melakukan hal ini lagi padaku. Ia menangis, ia katakan ia hanya terbawa emosi. Dan tentang Hafla, ia hanya merasa bersalah padanya karna ia menjadi seperti itu karna dia, karna suamiku. Aku tersenyum dan memaafkannya. Mungkin aku akan melakukan hal yang sama jika aku berada diposisinya. Ahmad menggenggam tanganku erat. Kini aku merasakan kehangatannya kembali. Aku hanya bisa menangis bahagia.

Tapi tiba-tiba perut ku sakit lagi. Sakit sekali. Ahmad panik, ia lalu keluar memanggil dokter. Dokter datang dan langsung memeriksaku. Kata dokter aku keguguran. Seketika aku menjerit, aku menangis. Anakku. Dia telah pergi. Aku sedih, namun Ahmad lebih sedih. Katanya semua ini katanya. Aku semakin sedih dibuatnya. Aku katakan tak apa. Karna semua ini milik-NYA. Aku mencoba tegar.

Satu minggu kemudian aku keluar dari rumah sakit. Aku sudah baik-baik saja alhamdulillah. Malamnya aku duduk berdua disudut kamar bersama Ahmad, kami bersenda gurau. Lalu aku bicara serius. Bagaimana kalau Ahmad menikahi Hafla. Ahmad terkejut. Aku katakan bahwa aku serius tak bercanda. Ahmad menolaknya.

Aku terus saja membujuknya. Aku tau ini bukanlah hal yang mudah, dan sangat tak masuk akal ada istri meminta untuk di madu. Aku tau ini akan menyakitkan untukku, namun aku yakin suamiku mampu berlaku adil. Suamiku marah padaku, ia katakan bahwa ia takan pernah melakukan hal semacam itu. Tapi aku tak menyerah. Aku katakan aku mencintainya, akupun yakin bahwa ia pun mencintaiku. Tapi Hafla, aku benar-benar khawatir padanya, aku tak bisa bahagia diatas penderitaanya. Aku pun melihat satu hal dari mata suamiku. Aku melihat Ahmad merindukan hadirnya Hafla.

Malam itu aku terus saja membujuknya, aku katakan bahwa aku menginginkan syurga atas hal ini. Suamiku menangis dan mendekapku erat, lalu ia katakan bahwa ia akan melakukannya. Aku bahagia mendengarnya. Dalam tahajudku, aku menangis, mengadu pada-NYA. Bahwa sungguh hatiku sakit. Meski aku yang meminta perihal ini, namun aku tak kuasa menahan pedihnya. Berbagi suami. Hal yang tak pernah ku bayangkan sebelumnya. Namun aku mencoba ikhlas. Aku bahagia. Ya aku harus bahagia. Ah tidak. Kami bertiga harus bahagia.

Dihari pernikahan mereka, aku hanya mampu menahan haru dari balik tirai. Aku cemburu melihat mereka berdua tersenyum hangat. Air mataku terjatuh. Meski cemburu, namun aku bahagia.

Dimalam pernikahan mereka, aku menyiapkan segala-galanya. Kamar pengantin ku hias sedemikian indahnya. Lalu mereka berdua datang, lantas memelukku. Aku bahagia memiliki kalian, aku katakan padanya. Lalu Ahmad menggenggam erat tanganku dan mengatakan bahwa ia mencintaiku. Aku tersenyum bahagia mendengarnya. Lalu aku bisikan di telinga Ahmad, suami yang aku sangat cintai.. bahwa rembulan ini untukmu, sayang.

Oleh Muslimah Watashiwa
Facebook : http://www.facebook.com/hikarino.michi.3

18 September 2012

Cerpen Sedih: Maafin Bella, Yah...

Seperti biasanya, sepulang dari sekolah, Bela mengajak beberapa temannya untuk mampir ke rumahnya. Mereka pun langsung masuk ke dalam kamar Bella tanpa menemui Ayah Bela yang sedang terbaring lemas di ranjang. Lalu, Bella memilih kaset dan memasukkannya ke dalam tape radio serta menyetelnya dengan suara yang cukup keras. Mereka sangat menikmati musik tersebut tanpa mempedulikan ayah Bella yang sedang sakit. Karena tak tahan dengan kelakuan Bella dan teman-temanya, Ganis, kakak Bella pun keluar dari kamar ayahnya dan menuju ke kamar adiknya itu. Pintu kamar yang tak terkunci itu pun langsung didorongnya dengan wajah kesal.

Ayah

"Bella!! Kecilin suara musiknya dong!! Ayah kan lagi sakit! Sudah pulang enggak salaman dulu sama ayah, sekarang kamu malah buat kegaduhan!", bentak Ganis.

"Dia itu bukan ayah kita, kak! Lagi pula, dia aja enggak protes, kok malah kakak sich yang protes!?”, sahut Bella melawan bentakan Ganis.

"Kakak tahu! Dia memang bukan ayah kandung kita, tapi dia sudah lama tinggal sama kita dan berusaha untuk menjadi ayah tiri yang baik. Jadi, kamu harus menghormati dia juga dong Bel!!", kata Ganis menasehati adiknya.

"Ayah kamu lagi sakit, Bel? Pantasan, tadi dia enggak ngajar matematika. Kok, kamu enggak bilang sich Bel?! Kita jenguk ayah kamu aja yuk!?", sela seorang teman Bella.

"Jenguk aja sendiri!!", tolak Bella langsung mengusir teman-temannya dan mengunci rapat pintu kamarnya.

"Bella!! Kamu kok gitu sich!? Jangan egois dong!!", tambah teman Bella yang lainnya.

"Biarin aja! Udah sana, kalian jenguk aja tuh guru kesayangan kalian! Aku mau sendirian aja di kamar!!", bentak Bella.

Tak terdengar balasan dari balik pintu kamar Bella yang terkunci. Ganis beserta teman-teman Bella pun berjalan menuju kamar ayah tanpa mempedulikan Bella.

Pukul 20.00 WIB, waktunya makan malam bersama di rumah Bella. Namun, Bella enggan keluar dari kamarnya. Sudang dipanggil berkali-kali, ia tetap saja mengurung diri di kamarnya. Ini memang sudah menjadi kejadian yang lumrah di rumah Bella. Semenjak ayah kandungnya meninggal meninggal dunia dan digantikan oleh ayah tirinya dua tahun yang lalu, sikap dan sifat Bella menjadi berubah. Ia tak mau mengganggap ayah tirinya sebagai ayah, apalagi untuk memanggil "Ayah", terasa ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokannya. Padahal, ayah tirinya bukan monster seperti yang ada di televisi-televisi. Ayah tirinya termasuk orang yang baik dan sabar dalam menghadapi tingkah laku Bella.

"Kok, enggak dimakan Yah?", tanya Ganis yang mendapati ayahnya sedang termenung meratapi makanan yang ada di piring.

"Ayah mau nunggu Bella, Nis", jawab ayah dengan suara parau. “Bella enggak akan keluar Yah! Udah, ayah makan duluan aja ya?! Nanti, kalau dia udah mulai kelaparan juga keluar sendiri”.

"Iya, ayah makan aja duluan. Biar cepat sembuh. Nanti, makanan Bella biar bunda yang antar ke kamarnya”, tambah bunda.

Mereka pun melahap santapan makan malam tanpa kehadiran Bella. Seusai makan malam, bunda mengantar makanan ke kamar Bella.

“Bella . . . ini bunda antarkan makan malam kamu. Kamu pasti sudah laparkan?”. Tak terdengar sedikit jawabanpun dari mulut Bella.

Aku ambil makanannya enggak ya?? Malas akh!! Nanti aku ambil sendiri aja di ruang makan. Pokoknya, kalau aku lagi marah, enggak boleh tanggung-tanggung, harus seharian. Kalau perlu sampai besok! Biar om-om itu nyadar, kalau kehadirannya di sini cuma ngerepotin keluarga aku.

"Bella!?". Seru bunda.

"Aku udah kenyang bun! Aku enggak mau makan!".

"Ya sudah". Sahut bunda singkat.

Sekitar tengah malam, perut Bella mulai keroncongan. Bella pun mengendap-endap keluar dari kamarnya menuju ke ruang makan. Dibukanya tudung saji yang tertutup rapi, namun hanya terdapat nasi dan telur dadar. 

"Lauknya kok cuma telur dadar sich? Bunda enggak masak atau lauk yang lainnya udah pada habis . . .?!". Tanya Bella pada dirinya sendiri.

"Kamu lapar juga, Bel!?". Kaget bunda dari belakang. "Udah enggak!! Habis, lauknya cuma telur dadar sich!!”. “Bunda tadi enggak sempat masak, Bel. Soalnya, bunda harus jagain ayah kamu. Tadi, suhu tubuhnya tinggi lagi. Lagi pula, uang bunda sudah tinggal sedikit”, ujar bunda.

"Dia lagi-dia lagi!! Heran ya, kok pada ngebelain dia semua sich?! Dipelet kali ya!!?? Lagian, sakit-sakitan terus sich!! Jadinya ngabisin uang bunda dech! Kalau jadi guru honorer tuh, harus rajin ngajar! Jangan tiduran mulu!!". Ejek Bella.

"Bella!! Kalau ngomong tuh dipikir-pikir dulu ya!? Jangan asal nyeplos aja!!". Bentak bunda.

Bella pun berlari meninggalkan bundanya menuju kamar dan membanting pintu kamarnya dengan sekuat tenaga. Bunda sudah tidak tahu harus bagaimana lagi menasehati putri bungsunya itu. Seisi rumahpun terkejut mendengarnya. Ganis langsung keluar dari kamar dan menghampiri bunda. Bunda menangis dalam dekapan Ganis.

"Udah, bunda jangan nagis lagi ya . . . ?! Bunda kan tahu sendiri bagaimana sikap Bella sekarang ini. Dia udah enggak seramah dulu lagi. Berubah drastis bun . . .". Kata Ganis.

Bunda melepas dekapan itu. “Ya sudah, bunda mau mengecek kondisi ayah kamu lagi ya . . .?!".

"Iya".

Kemudian, bunda dan Ganis pun kembali ke kamarnya masing-masing.

"Bella marah-marah lagi ya, Bun? Pasti gara-gara ayah. Saya memang bukan ayah yang baik buat Bella. Saya sudah merepotkan kamu. Besok, saya akan mengajar lagi. Saya tidak mau kalau gaji kamu habis untuk membeli obat saya", kata ayah dengan suara pelan.

"Ayah enggak boleh bilang kayak gitu. Lebih baik ayah istirahat dulu, mengajarnya cuti saja”. “Besok saya tetap akan mengajar". Kata ayah mantap.

Tiga hari sudah, ayah tidak mengajar matematika di SMU di mana Bella bersekolah. Setelah kejadian semalam, ayah pun memaksakan diri untuk pergi mengajar, walau kondisi kesehatannya belum pulih benar, saat mengajar di kelas Bella, Bella menunjukkan paras yang tidak senang atas kehadiran ayah tirinya itu. Bella memang tak pernah memperhatikan ayahnya ketika menjelaskan pelajaran. Sepulang sekolah, Bella mencoba menyetir mobil milik temannya di jalan yang cukup sepi. Kerena belum terbiasa menyetir mobil, pandangan mata Bella kurang fokus ke depan. Tiba-tiba ada seorang bapak sedang melintas menggunakan sepeda motor butut. Bella yang menyetir sambil berbicang-bincang dengan teman-temannya itu, tiba-tiba hilang kendali dan akhirnya,

PLASH..... sepeda motor itu ditabraknya. Bella dan teman-teman pun keluar dari dalam mobil. Mulut Bella bagai gawang yang kebobolan bola. Ia terkejut, ternyata orang yang ditabraknya tak lain adalah ayah tirinya sendiri. Bella panik bukan main dan langsung melarikan diri.

"Bella!! Dia ayah kamu! Kamu harus bawa dia ke rumah sakit, Bel!!", teriak salah seorang teman Bella.

"Aku takut!! Nanti kalau aku ditangkap polisi gimana?!".

"Bel, kamu harus tanggung jawab dong! Dia itu ayah kamu, Bel!! Kamu enggak akan ditangkap polisi kalau kamu bawa dia ke rumah sakit!".

"Dia bukan ayah aku!! Aku enggak mau bawa dia ke rumah sakit!", tolak Bella.

"Dia emang bukan ayah kandung kamu! Tapi dia tetap ayah yang harus kamu sayangi, Bel . . . Dia mungkin juga bukan ayah yang terbaik bagi kamu, pti dia udah berusaha untuk menjadi yang terbaik buat kamu dan keluarga kamu! Kami ngeliat ketulusan dari mata dia kok, Bel! Kalau beliau itu sayang sama kamu. Dia ayah kamu! Dan dia juga guru kita! Kalau dia enggak tertolong lagi, kita enggak bisa ngerasain enaknya belajar matematika lagi, Bel! Sadar dong Bel!!", nasehat temannya.

Mendengar nasehat temannya itu, hati Bella luluh. Di lubuk hatinya yang terdalam, di memori pikirannya yang jauh, Bella memikirkan kebaikan ayah tirinya itu. Dari kesabarannya, kebaikannya, keikhlasannya, dan ketabahannya dalam menghadapi Bella. Dengan cpat, Bella dan teman-temannya membawa ayah ke rumah sakit terdekat. Bella langsung menghubungi bunda dan kakaknya. Bunda, Bella, Ganis, dan teman-teman Bella khawatir dengan keadaan pasien itu. Dokter pun langsung menangani ayah dengan serius. Beberapa jam kemudian, dokter keluar dari ruangan untuk memberitahu keadaan ayah. Dan ayah pun sudah tersadar. Mereka semua masuk ke dalam ruangan untuk menjenguk ayah. Bella berlari dan memeluk hangat tubuh ringkih ayahnya seraya meneteskan air mata yang sempat tertahan di bola mata indahnya.

"Maafin Bella ya, Yah!? Bella enggak sengaja nabrak ayah", jujur Bella.

Bellla yang awalnya tidak mau bercerita dengan keluarganya, akhirnya menceritakan kejadian yang sebenarnya. Awalnya, bunda ingin mengusir Bella, namun ayah mencegahnya.

"Bel, ayah senang . . . kamu sudah bisa panggil saya ayah. Ayah ikhlas ditabrak kamu, asalkan akhirnya kamu bisa menerima dan panggil saya dengan sebutan ayah". Sebegitu besarnya pengharapan ayah kepadaku!? Aku emang jahat banget ya!?  kata Bella dalam lubuk hatinya.

"Ayah harus lekas sembuh, ya!? Biar bisa ngajar matematika lagi".

"Iya, nak . . .".

Bella seperti tak ingin lepas dari pelukan ayahnya itu,. Bunda dan Ganis pun memeluk ayah dan Bella. Tak lama berpelukan, Bella pun melepaskan diri dari dekapan keluarganya itu.

"Bella janji, Bella akan panggil ayah sekarang dan sampai kapan pun juga. Aku udah lama enggak ngucapin kata ayah. Aku kangen sama sosok seorang ayah. Maafin Bella ya, Yah!?".

"Kamu enggak perlu minta maaf. Ayah sayang sama kalian. Ayah akan berusaha untuk menjadi seorang ayah yang terbaik buat keluarga ini, khususnya untuk kamu dan kakak kamu. Walau mungkin, ayah enggak akan pernah bisa untuk menggantikan ayah kandung kalian". Bella dan Ganis menjabat erat tangan ayahnya.

"Bella sayang sama ayah. Maafin Bella, Yah!?", ucap Bella sekali lagi.

"Kami juga sayang sama pak guru!! Hehehehehe . . .", tambah teman-teman Bella.

Ayah dan bunda hanya tersenyum lega. Akhirnya, Bella tersadar juga, bahwa betapa sabarnya sang ayah untuk menantinya menyambut ayah tirinya. Sekarang dan seterusnya, Bella akan memanggil "ayah" kepada ayah tirinya dan hidup bahagia bersama keluarganya. Wala memang, ayah itu bukan ayah kandungnya.

"Sekali lagi, maafin Bella, Yah!?!". 

Oleh Malida Perwitasari
Facebook : malida3005@gmail.com